Metakognitif Hidup
Mungkin memang metakognitif itu tidak hanya cocok dilakukan saat pembelajaran, tapi juga cocok untuk menghadapi masalah hidup.
Yaitu metakognitif bagian refleksi diri, apakah aku sudah menguasai emosiku? Apakah aku sudah menguasai egoku? Apakah yang aku lakukan ini benar? Jika tiba-tiba beberapa orang melihatku aneh, maka akan kucoba untuk evaluasi diri, apa yang salah. Dan aku harus menjadi orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Belajar membaca keadaan, belajar untuk menjadi dewasa karena ketika dihadapi dengan dunia kerja, ku takbisa jalan dengan ego tinggi.
Jika mungkin aku tak sadar bahwa ego ku tinggi, maka mungkin memang ada yang salah pada kemampuan metakognitif ku, lantas bagaimana aku menerapkan metakognitif pada siswa jika pada diri sendiri pun tak bisa.
Maka tida salah jika aku punya teman yang selalu mengingatkanku akan kesalahanku ini. Dan aku pun harus bisa menerimanya, karena kita tidak hidup sendiri, melainkan kita juga hidup di lingkungan mereka.
Dan aku akan sangat bersyukur sudah mempunyai teman yang bersedia mengingatkanku. Karena, ketika temanku mengingatkanku sedangkan aku malah tetap pada egoku, mungkin temanku juga lama kelamaan akan lelah dan akhirnya meninggalkanku.
Dan ketika mereka meninggalkanku, lantas siapa yangs salah? Mungkin aku yang ber-ego tinggi. Dan hal ini pasti tidak akan terjadi sesekali. Maka aku pun harus bisa belajar bahwa manajemen ego, beradaptasi dan menjadi orang yang tolerir itu perlu dibiasakan.
Yaitu metakognitif bagian refleksi diri, apakah aku sudah menguasai emosiku? Apakah aku sudah menguasai egoku? Apakah yang aku lakukan ini benar? Jika tiba-tiba beberapa orang melihatku aneh, maka akan kucoba untuk evaluasi diri, apa yang salah. Dan aku harus menjadi orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Belajar membaca keadaan, belajar untuk menjadi dewasa karena ketika dihadapi dengan dunia kerja, ku takbisa jalan dengan ego tinggi.
Jika mungkin aku tak sadar bahwa ego ku tinggi, maka mungkin memang ada yang salah pada kemampuan metakognitif ku, lantas bagaimana aku menerapkan metakognitif pada siswa jika pada diri sendiri pun tak bisa.
Maka tida salah jika aku punya teman yang selalu mengingatkanku akan kesalahanku ini. Dan aku pun harus bisa menerimanya, karena kita tidak hidup sendiri, melainkan kita juga hidup di lingkungan mereka.
Dan aku akan sangat bersyukur sudah mempunyai teman yang bersedia mengingatkanku. Karena, ketika temanku mengingatkanku sedangkan aku malah tetap pada egoku, mungkin temanku juga lama kelamaan akan lelah dan akhirnya meninggalkanku.
Dan ketika mereka meninggalkanku, lantas siapa yangs salah? Mungkin aku yang ber-ego tinggi. Dan hal ini pasti tidak akan terjadi sesekali. Maka aku pun harus bisa belajar bahwa manajemen ego, beradaptasi dan menjadi orang yang tolerir itu perlu dibiasakan.
Komentar
Posting Komentar